Sabtu, 14 Mei 2011

Bermimpi dalam waktu

Ini sebuah kisah tentang anak berumur tujuh tahun, ia memiliki mimpi sederhana. Sebuah mimpi kecil dengan sebuah harapan besar.
Ia benar-benar tahu, bagaimana cara mendapatkannya.
Ia benar-benar mengerti, apa yang harus di lakukannya.
Ia menikmati semuanya. Seiring waktu berjalan, 5 tahun sudah semuanya terjalankan. Berjalan di atas waktu dengan angin yang berhembus sepoi-sepoi. Ini garis kemenangannya, Bung!
*
Waktu seakan mempermainkannya, menghempaskannya dan membuangkan seperti lalat. Itu semua.... nyata?
Dia menengadahkan kepalanya, berharap mendapatkan satu kebohongan. Satu kebohongan tentang kenyataan yang ia tapaki sekarang.
Ia mengusap buliran yang perlahan jatuh. Semuanya pun tidak terasa lega. Hanya saja... bulir-bulir itu menyirami bibit sakit yang mendalam.
Semuanya... hanya karena gengsi? Begitukah ayahnya berpikir?
Lantas... apa perasaan dan jerih payahnya tidak bernilai? Hanya debu yang bertebaran di angkasa?
Ia... takut untuk bermimpi lagi... Tapi, ia tidak pernah ingin kehilangan jejak-jejak mimpi.
Tunggu aku! Karena aku masih bisa berharap dan memiliki harapan.
**
Mimpi adalah hal tanpa batas, bukan juga berarti tidak bisa digapai.
Mimpi itu udara, takkan pernah bisa lepas, dan kita akan selalu membutuhkannya. Ia hanya akan pergi, saat jiwa di ujung napas.
Jika kau lelah untuk menghirup udara, izinkan saja ia memasuki rongga paru-parumu. Tapi, jangan pernah kau rasakan sakit karenanya.
Jika kau lelah untuk menghembuskannya, jangan pernah larang dia untuk pergi. Karena udara, pada akhirnya juga menghampirimu.
Kita hidup dalam udara. Kita bernapas untuk hidup. Jangan pernah beranggapan hidup untuk bernapas.
**

1 komentar:

Tinggal jejakmu di bawah jejak kecilku. Silakan menggunakan Name/URL atau Anonymous :)