Rabu, 04 Januari 2012

Karena Ini Yang Pertama - FF Icil


“Yo...” Rio menoleh dengan malas. “Ngeliatin siapa lo?” Tanya Alvin sambil mengikuti arah pandang Rio tadi.
“Apa?” Ujar Rio tidak mengerti.
Alvin mengangguk-angguk sok mengerti. “Nanti gue kasih tau deh sama orangnya. Kok lo nggak pernah cerita sih?”
Rio melongo sekilas. Apa sih maksud makhluk satu ini? Cerita apa? Kasih tau apa?
Udah jangan boong. Lo ngeliatin Shilla kan dari tadi...” Alvin pun langsung tersenyum cerah.
Rio? Dia sudah menggeleng maklum dengan kelakukan temannya yang sudah mencapai batas akut kegilaannya.
*
Rio tersenyum sendiri. Sebenarnya, tanpa sengaja ia menoleh ke arah tawa yang menjadi sumber deheman guru Sejarahnya. Siapa lagi kalau bukan Ify dan Shilla?
“Tuh... Benerkan apa kata gue, lo suka sama dia.” Celetuk Alvin lagi.
“Idih. Siapa sih yang suka? Elo kali.” Elak Rio yang lalu kembali menulis catatan di depan. Menatapi setiap tulisan rapi yang terukir di sana.
**
Pelajaran sejarah merupakan pelajaran paling memualkan diantara semua pelajaran. Lebih baik mengerjakan rumus phytagoras dan pembiasan lensa daripada harus menghafal tanggal-tanggal. Begitu menurut Rio.
Dan untuk kesekian kalinya, Rio harus dengan rela melewati jam pelajaran sejarah di kursi keempat dari depan, dengan barisan terpojok dekat pintu. Pemuda itu menghela napas panjang, menumpukkan kepalanya dengan satu tangan yang diletakkan di atas meja.
Masih sama. Ia memandangi dedaunan yang bertiup sepoi-sepoi diluar kelas. Angin itu melambai-lambai, bawa satu alunan yang menyerukan siapa pun untuk tidur. Tapi... Iris mata itu langsung membuat bibirnya tertarik ke atas.
Tawanya, diantara grasak-grusuk tidak jelas di kursi ketiga dari depan –tengah- barisan ketiga dari pintu. Lalu, tiba-tiba saja gadis itu menjatuhkan pulpen yang langsung ditertawakan temen sebangkunya.
Ada yang berbeda... Di sana... Atau... Di dalam sini?
**
Rio membanting tangganya ke udara kesal. Kenapa ia harus di ciptakan terlalu bodoh untuk pelajaran menghafal tanggal?
“Saya nggak tau, Bu. Tanya aja sama Ir. Soekarno kapan dia bikin PPKI sama rapat-rapatnya. Lahir aja saya belum.”
Begitulah kalimat yang dilontarkan Rio sangking kesalnya dengan tanggal-tanggal yang bahkan ia belum lahir. Jauh sebelum orangtua lahir malah.
“Empos lo!” Alvin tertawa terbahak begitu Rio tiba di kursinya. “Bego banget sih lo sama begituan.”
“Tau deh, yang dapet 90 terus kalo sejarah.” Dengus Rio kesal.
Untung saja ia duduk dengan Alvin yang benar-benar jago dengan hafalan huruf. Biologi maupun sejarah ia kuasai. Apalagi tentang segala macam jenis kedaulatan dan pasal-pasal. Setidaknya, itu membuatnya mendapat nilai 78 di kertas ulangannya.
“Eh, Yo.” Ujar Alvin setelah meredakan tawanya. Dia pun menunjuk seorang gadis dengan dagunya.
Rio menatapinya sekilas, “Apa sih?” Kali ini ia sudah benar-benar muak dengan ledekkan Alvin. Ah, gila saja hampir setiap hari ia dikatai seperti itu.
“Oh, atau jangan-jangan lo itu ngeliatin Ify?”
Rio semakin melotot, “Gue itu ngeliatin pohon. Udaah deh.”
“Udah lah. Boong banget.” Alvin menyengir lebar dan memukulkan pensilnya ke dahi Rio.
**
Jam istirahat pertama, Rio sudah ada di dalam kantin dengan sepiring gorengan lengkap dengan sambal kacangnya. Dengan lahap pemuda itu memasukkan potongan risol secara brutal.
“Eh, Yo. Nanti kita mau latihan...”
Alvin tersenyum jahil selagi Rio berbicara dengan anggota basket lainnya. Dengan sigap ia meraih risol dari piring Rio dan menyelipkan beberapa cabai utuh –yang memang tersedia bersama dengan sambal- kedalannya, lantas mengambalikkan ke tempat semula.
“Iye.” Sahut Rio lansung meraih risol itu. Melahap setiap potongan risol terakhirnya. Sebelum... “ANJRIT!” Dia mengibaskan tangannya di depan mulutnya yang menganga lebar.
“PEDES!” Dia langsung meraih gelas es tehnya, menyedot sedalam-dalamnya sebelum tersadar karena teriakkan Alvin, “itu gelas kosong, bego.”
Rio lansung berlari menuju salah satu los di sana, mengambil selembar uang lima ribuan dan meraih gelas plastik itu. SROT...
Setelah menghabiskan tiga teh hangat, Rio berjalan menuju bangkunya tadi. Tapi, seseorang tiba-tiba saja berbalik, dengan sukarela air dingin itu menumpahi kemeja putih Rio.
“Aduh... Sorry banget, Yo.” Ujar gadis itu yang langsung mengambil tissue dari dalam sakunya, menyodorkan kepada pemuda itu. “Maaf, Yo.” Ujarnya sekali lagi.
Rio meraih tissue itu kasar. Sial benar hari ini dia. “Iye.” Ujarnya yang lalu mengalihkan pandangannya dari kemeja ke gadis  dihadapannya itu.
Terdiam.
“Gue kekelas duluan,” ujar gadis itu dan berlalu.
Mata itu...
**
“Ecie... Diliatin terus. Dua-duanya jangan diembat dong, Yo. Satu buat gue. Mana aja, yang satu manis, yang satu cantik ini.”
Benar-benar si Alvin ini. Sebegitu salah pahamkan temannya ini? Ia hanya melihat keluar jendela. Perlu di eja? Tidak perlulah, kan dia bukan anak TK lagi.
“Lo itu... Gue udah bilang...”
“Ya... Ya... Ya... Lo pilih yang mana? Gue Ify aja, lo Shilla.” Saran Alvin yang kali ini sdah mencapai batas normal, “Entar kan kalo lo pacaran, gue ikutan, ngerecokin gitu, terus minta Shilla jadi mak comblang gue sama Ify. Entar kalo lo nggak suka sama Shilla, dan gue udah pacaran sama Ify, putusin juga nggak pa-pa.”
PLETAK.
Sebuah penggaris elastis baru saja mendarat di atas kepala Alvin, “Itu sih namanya lo manfaatin gue sama Shilla. Ogah, umur lo berapa sih? Baru juga 14, belagak pacaran.”
Alvin mengusap kepalanya, dan membalas dengan pulpen, “Ah, sok-sokan lo. Mau juga itu sebenernya.”
“Apaan sih lo, Vin... Amit. Gede juga belom.”
“Iya apa?” Suaranya kali ini benar-benar terdengar ‘nyolot’ sangat-sangat. “Udah kumisan aja lo.”
Rio meraba hidung bagian bawahanya, “Eh, jangan bahas kumis, tipis gini doang. Elo noh, udah jerawatan.”
“Mana? Sorry ye, muka ane bersih, tanpa jerawat, noda-noda hitam, kantung mata, dan yang pasti BELUM ADA KUMIS!” Ujar Alvin penuh penekanan.
“Emang kalo ada kumis udah pasti dewasa gitu? Enggak kali, dewasa itu diliat dari sikap.”
Alvin bertepuk tangannya kegirangan. Kali ini sudah mencapai batas maksimum kegilaan akutnya, “Gile, belajar sama engkong siapa lo bisa gitu ngomongnya?”
Rio memukul keningnya, berganti memukul kening Alvin, “Biar lo ketularan waras, pinter, ganteng, manis, baik kayak gue.”
Seketika itu juga Alvin berlagak muntah, “Udah bereaksi nih.” Kali ini ia memgangi perutnya. “Tapi kayaknya nggak mempan, gue lebih piter, waras, ganteng, manis, baik hati, tidak sombong, rajin menabung daripada elo.” Alvin pun duduk tegap setelahnya dan meyengir lebar.
“Itu sih namanya gila. Alvin... Alvin...”
**
“Jadikan, Vin?” Tanya Rio memastikan sambil sibuk menjejalkan buku Geografi –mata pelajaran jam terakhir- kedalam ransel hitamnya.
Alvin menggauk dan meraih pensil mekanik yang baru saja jatuh di bawah kursinya. “Barengan Ray, yak?”
“Nyamper ke 8-4 dulu dong?” Ujar Rio yang langsung menggunakan ransel hitammnya.
“He’eh. Udah nyok!”
Mereke pun keluar kelas dan menghampiri kelas di sebalah kanan kelas mereka itu. “Ray mana nih?”
Baru suka di bicarakan, Ray tiba-tiba saja kepala Ray muncul dari jendela samping tempat mereka menunggu. “Ray di sini! Hehe...”
“Amit lo Ray. Kayak Sadako.” Alvin pun mengusap dadanya.
“Lebay kaget lo, Vin. Gue keluar dulu!”
Mereka pun berjalan menuju tempat parkir –lebih tepatnya tempat parkir sepeda- dengan bercoleh tak jelas seperti biasanya. Setibanya di sana, Ray langsung mengeluarkan sepedanya. “Vin, ikut siapa lo?”
“Rio aja, lah! Kuat apa lo, badan kecil aja belagak ngasih tumpangan.” Alvin pun langsung berdiri di bagian belakang sepda Rio.
“Udah, bilang aja lo mau mersa-mersaan sama Rio.” Ledek Ray sambil mengibaskan kelima jarinya, seolah jijik dengan kata yang baru saja ia lontarkan.
Alvin memeletkan lidahnya, “Ngomong aja nggak becus, ngatain orang lo. MESRA. Es nya duluan baru er.”
“Udah, Ray kan nggak lulus TK.” Celetuk Rio yang langsung mengayuh pedal sepedanya.

“Vin, temenin gue ke komik-komik yuk!” Tanpa ba-bi-bu lagi Rio menarik tangan itu menuju rak yang terletak di dekat kasir itu.
“Eh...”
“Eh-eh-eh aja lo,” gerutu Rio sambil terus menarik tangan itu.
Kok, tangganya alus begini ya? Putih sih Alvin, tapi nggak begini juga kali kulitnya. Batinnya sendiri.
Rio berhenti sebelum tiba di tempat tujuannya. Firasatnya buruk. Jangan-jangan... “Eh,” sontak Rio melepaskan genggamannya. Dia menatap mata itu perlahan, hanya dalam hitungan persekian detik.
Setelahnya, pemuda itu membuang wajahnya dan menggaruk telinganya. “Sorry... Nggak sengaja. Yaudah, gue... Ke sana dulu...”
Mata itu. Sama seperti yang di kantin. Gadis itu....
“Weits dah, bro. Pendekatan berhasil nih? Ampe pegangan begitu. Katanya belum gede, belum dewasa.” Ledek Alvin saat melihat potongan adegan itu.
Rio membuang wajahnya. “Berisik banget sih lo, Vin.” Rio pun meraih sebuah komik dari rak itu. Membaca –atau lebih tepatnya berpura-pura membaca- sinopsis.
“Ada apa nih? Berisik banget. Ada alien yang dateng ke bumi?” Ray yang baru saja datang pun langsung memperkeruh suasana dengan ucapan ngawur.
“Itu, si Rio, habis pegangan tangna sama Shilla.” Alvin menaik turunkan alisnya. “Gila kan pdktnya?”
Ray berdeca samil bergeleng dramatis. “keren, tinggal tunggu tanggal main aj aini sih.”
“Eh, Naruto 51 udah keluar nih.” Rio mengacungkan sebuah buku sedang itu di depan mata Ray.
Ray menampik buku itu, “Mengalihkan pembicaraan lo.”
“Heh? Kagak! Beneran ini, nggak liat?” Sekali lagi Rio menyodorkan buku itu tepat di depan wajah Ray.
“Ngek! Kucing noh terbang. Salting aja lo.”
**
Pembagian kelompok Sejarah. Sejarah?!
Kertas gulungan itu mulai dibuka satu persatu dan Ify –sebagai sekertaris kedua- menuliskan nama-nama itu di bawah nama kelompok mereka nantinya.
Rio bergerak gusar di kurisnya. Namanya tak kunjung muncul di klompok manapun. Padahal tinggal delapan orang lagi.
“Ashilla, kelompok 3,” ujar Acha –sekertaris pertama.
Rio menelan ludahnya sendiri. Ia pun memejamkan matanya. Entahlah, ia akan merasa lebih baik jika harus seperti itu. “Nah, sekarang pembagian pokok bahasan setiap kelompok.” Suara gurunya itu pun langsung di tanggapi dengan membukanya kelopak mata Rio.
“Gue... Kelompok 5, Vin?” Ujar Rio memastikan. Memastikan penglihatannya dan... Perasaannya?
“He’eh, kenapa lo? Terserang rabun mendadak?”
Rio mendengus. Melengkapi segala yang retak menjadi benar-benar lebur. “Enak aja lo, mata gue masih sehat, emang elo yang udah tua.”
Alvin menaikkan kaca matanya mengejek, “Yang penting ganteng ini.”
“Pale lo.” Sahut Rio tidak terima. “Ganteng kalo lo nyebur sumur maut, diliat pake sedotan.” Ujar Rio sambil membawa-bawa sumur kecil yang dulu digunakan untuk mengubur ketujuh jenderal indonesia pada masa penjajahan itu.
Setelahnya, Rio menghela napas panajng sendiri. Sesak itu datang perlahan-lahan tanpa ia tahu. Rasanya...
**
Dengan satu hentakkan, Rio membuka pintu kamarnya secara brutal. Melempar ransel hitamnya sembarangan yang kini entah mendarat dimana. Yang lalu disusul oleh deheman ranjang karena dirinya baru saja dijatuhkan di atasnya.
Dia menggulingkan badannya menghadap tembok yang ada disebelah kiri ranjangnya. Menatapi tembok biru itu. Membayangkan sebuah... Senyuman?
“Kenapa sih gue? Kok jadi sewot sendiri?” Rio pun bangkit dan berpindah duduk di tepian ranjang. “Apa gue... Kesel?”
**
Bodohnya, ia harus telat karena bangun kesiangan. Seperti inilah murid yang menyepelekan jarak rumah dan sekolah. Berkata bahwa ‘lima menit juga nyampe’ dengna santai. Pada nyatanya pun harus membutuhkan waktu sepuluh menit untuk tiba.
Setelah meletakkan tas dikelas, Rio langsung turun kelapangan. Untung saja jam pertama adalah olahraga, jika tidak ia harus pergi ke guru piket untuk meminta surat masuk kelas karena telat.
“Maaf, Pak, telat.”
Rio segera menoleh ke sumber suara itu. Shilla?
“Ecie... Barengan...” Seru Alvin dari barisan palign belakang. Dengan komando itu pun, anak-anak mulai bersorak-sorai. “Ecie.. PJ dong,” “Ea... Pasangan baru,” “Pajak woi!” “Kapan jadiannya nih?”
Dan itu semua cukup membuat Rio salah tingkah sendiri. Di apun langsung memasuki abrisan dan mendengarkan gurunya bercuap-cuap ria tentang kemenangan Gabriel dalam O2SN kemarin.

Rio mengibaskan bagian depan kaos olahraganya, berharap dengan begitu ada sedikit udara sejuk yang menyertainya.
“Panas gila!” Rio pun langsung duduk di samping Alvin.
“Lah, elo, habis lari 1 km, langsung main basket, gimana nggak capek?”
Rio hanya diam. Menatapi koridor aula yang kini sudah penuh dengan anak-anak perempuan yang berteduh di bawah pohon rindang yang terdapat di depannya.
Satu persatu keringat itu mengucur dari ujung anak-anak rambutnya, dalam balutan seragam putih biru –seragam olahraga- gadis itu lebih terlihat simpel dari pada di balik balutan seragam putih-putih dengan vest biru seperti biasa.
Tapi, mau bagaimana pun, gadis itu selalu terlihat cantik.
“weits, ngelamunin Shilla dia!” Seru Alvin yang membuat jantung Rio lompat seketika karena teriakkan barusan.
“Siapa sih, Vin? Sok tau banget sih lo?”
Alvin tertawa terbahak melihat wajah Rio yang penuh dengna keringat memerah. “Ngaku aja lo.”
**
Rio kembali seperti biasa, dan kini ia memang benar-benar menatapi gadis itu. Bukan lagi menatapi semilir angin yang menggelitik.
“Ngliatin Shilla lo? Asek...” Ledek Alvin lagi.
Pemuda itu hanya diam. Tidak menanggapi ledekkan Alvin seperti hari-hari sebelumnya.
“Eh, mana?” Tanggan Acha sudah menjulur ke depan wajahnya, meminta buku tugas yang dikumpulkan secara estafet kedepan.
Rio meraih pulpen tanpa sadar, mencoret secara perlahan-lahan yang lalu menjadi sedikit kasar. “kenapa lo, yo?”
Rio melakukan finishing dengan menekan pulpennya. “Nggak.”
Sedangkan di lain tempat, Gabriel tertawa terbahak bersama Shilla dan Ify. Hah? Ini penyebab amukan Rio barusan? Lantas, apakah Rio menyukai shilla?
“Buku, Yo!” Seru Acha yang sudah mulai kesal karena Rio tidak kunjung menyerahkan bukunya.
Alvin tertawa terbahak saat membuka sampul buku yang Rio coret-coret tadi. “Alvin!” Seru Guru sejarah itu dengna sangar, suara bahkan bisa melebihi sepuluh toa masjid.
“Aduh.. Itu... Si... Rio... Nyoret-nyoret bukunya...” Dan ia kembali tertawa lagi sekeras-kerasnya.
“MaRio? Kamu itu, sudah telat mengumpulkan tugas, selalu dapat nilai dibawah KKM, bikin ribut. Lengkap.”
“Itu gara-gara cemburu liat Shilla sama Gabriel bu!” Seru Alvin lagi.
Sontak, anak-anak mulai lagi dengan paduan suaranya. Sedangkan ia hanya bisa menggeram karena kelakukuan Alvin. Dasar.
**
Malam itu –malam minggu- Alvin, Rio dan Ray sudah bersiap tempur di rumah Alvin. Mereka akan menginap dan menghabiskan waktu semalam suntuk untuk bermain game, mencela satu sama lain, berteriak, dan yah, sesi saling memojokkan.
Rio menelentangkan tubuhnya dia atas karpet bergambarkan lambang liverpool itu. Begitu jug Alvin yang lalu mengikuti langkah Rio.
Tanpa Rio sadari, Rio berguling ke kanan dimana ada Alvin yang sedang posisi menghadap kiri. Dan... Ujung hidung mereka saling bertemu, “ANJRIT! Masih normal gue, YO!” Seru Alvin yang langsung bangun dari tidurnya.
“Ah, siapa juga yang mau sama lo!” Rio langsung bergidik sendiri. Dia masih benar-benar normal. Masih suka perempuan.
Ray yang sedang tidur-tiduran di kasur Alvin langsung tertawa terbahak-bahak melihat adegan itu. “Wa... Parah lo, Yo! Ternyata MAHO sejati!”
Rio mengusap wajahnya dengan satu tangan. “Gue masih normal. Alvin aja noh!”
“Eh, enak aja! Elo taid yang tiba-tiba miring begitu! Lagian gue masih suka sama cewek!” Balas Alvin sewot sendiri.
“Waah... Rio... Parah... Ternyata...” Ray mengacungkan telunjuknya dan digoyang-goyangkan.
“Eh, Enggak!” Pemuda itu panik sendiri. Padahal hal seperti itu sudah sering terjadi diantara mereka bertiga, saling meledek tanpa ada bukti nyata yang jelas.
“Lengkap ternyata, kemahoan lo.” Ray bergeleng sendiri.
“Maksud lo?!” Rio memajukkan bibirnya.
“Eh, lo berdua itu kemana-mana bareng, naik sepeda boncengan, kantin bareng, kelompok bebas pasti satu kelompok. Kurang apa coba?”
Alvin melotot kesal, tanpa sadar perkataan itu termasuk menuduh dirinya. “Eh, gue suka cewek sorry ya, gue masih suka Ify!”
“Nah, dia normal, lah elo?” Ray menunjuk Rio.
Rio gelagapan sendiri. “heh? Apa deh!” Dan hanya kalimat itu yang keluar dari bibirnya.
Ledekkan pun semakin menjadi-jadi. Membuat Rio mengerucutkan bibir semakin panjang. “Orang gue suka Shilla...” Lirihnya sendiri. Takut kalau-kalau itu adalah kalimat yang tidak seharusnya ia katakan. Karena pada dasarnya masih ada keraguan di sana, ini adalah kali pertamanya menemukan desiran itu. Jauh di dalam lubuk hatinya.
Alvin berhenti tertawa, sedangkan Ray masih terbahak. “Apa? Shilla?”
Rio terbelalak sendiri. Apa ucapannya tadi? Apakah menyinggung shilla? Tidak. Apakah Alvin mendengarnya?
“Lo suka Shilla?” Ulang Alvin untuk memperjelas kalimatnya barusan. Membuat Ray berhenti tertawa dan menaik turunkan alisnya.
Rio semakin panik. Dia mulai menggaruk belakang telinganya. “sejak kapan?”
“bener Yo?” Tanya Ray yang lalu berpindah duduk di sebelah Rio. “Nggak mau sama Ray lagi nih?”
Ray memajukkan bibirnya hendak ‘menyosor’ Rio ala tante girang. “GUE MASIH WARAS!”
“Apa buktinya?” Tanya Ray yang masih dalam posisinya.
“Gue...”
Ray semakin memajukkan tubuhnya, astaga. Sebenarnya siapa yang tidak normal, Rio atau Ray?
“Cepet, yo!” Paksa Alvin yang lalu menarik kaki Rio supaya tidak bisa menggelak dari kecupan ‘maut’ Ray.
“GUE SUKA SHILLA!” Teriak Rio lantang. Tnapa ada keraguan yang menyelimuti. Membiarkan hatinya mempercayai hal itu.
Alvin tertawa terbahak, Ray sudah berguling di karpet. Memegangi perutnya yang sudah tidak tahan melihat wajah Rio yang hendak ia kerjai tadi.
Rio mendengus sendiri. Menyadari ia hanya dikerjai oleh dua makhluk setengah tak waras itu. Ia pun hanya menggerutu pelan.
“Santai, Yo. Itu hal biasa buat anak labil kayak kita. Hehehe...” Ujar Alvin sambil memekul pelan bahu sahabatnya itu.
**
Karena pada dasarnya, rasa suka, cinta, sayang, hanyalah hal sederhana yang terjadi. Hal yang di miliki setiap orang. Yang lalu mereka buat istimewa oleh cara mereka masing-masing.
Segalanya tidak harus berawal dari benci, atau dari kejadian di masa lalu. Tapi, rasa itu bisa tumbuh karena ketidaksengajaan. Karena kekonyolan dan kedekatan tersendiri. Dan setiap orang selalu memiliki caranya masing-masing untuk menemukan keberadaannya.
Lantas, apa kau sudah menemukan rasa itu? Dengan cara apa?

Senin, 26 Desember 2011

Membuat File .pdf Dengan Mudah


Lagi iseng dan nggak sengaja menemukan sesuatu yang simpel. hihihi XD yuk mari liat caranya :
 
Pertama kalian membuka dokumen yang ingin kalian buat menjadi .pdf melalui microsft word atau mungkin mengeitk terlebih dahulu di sana.

Setelahnya, kalian bisa men-save as (jika file sudah di save). Maka akan ada jendela save as.
Dan…. Savelah sudah.
Hasilnya tilik di bawah ini (halah)


Koperasi Indonesia


Koperasi

1.      Sejarah Koperasi Indonesia
Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi dengan landasan serta prinsip koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat. Yang di perkenalkan oleh Raden Wirjaatmadja. Bekerjasama dengan E. Sieburg, R. Aria Wirjaatmadja  untuk mendirikan Bank Penolong dan Tabungan (Hulp en Spaarbank). Yang kemudian diikuti oleh Budi Utomo dan Serikat Dagang Indonesia (SDI).
Pada tanggal 12 Juli 1947 diadakan kongres koperasi pertama di Tasikmalaya, Jawa Barat. Dan hari itu di tetapkan sebagai hari koperasi dan Drs. Moh. Hatta sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

2.   Landasan, Asas, dan Tujuan Koperasi Indonesia


a. Landasan Koperasi Indonesia
o   Landasan Idiil yaitu, Pancasila.
o   Landasan Struktural yaitu, UUD 1945 Pasal 33 Ayat (1).
o   Landasan Mental yaitu, setia kawan serta kesadaran pribadi.

b. Asas Koperasi Indonesia
o   Asas Kekeluargaan memiliki makna kesadaran dalam hati nurani setiap anggotanya untuk memajukan koperasi.
o   Asas Gotong Royong adalah dalam koperasi harus ada keinsafan dan kesadaran, semangat bekerja sama, dan tanggung jawab bersama.

c. Tujuan Koperasi Indonesia
o   Memajukan dan meningkatkan kesejahteraan anggotanya serta masyarakat umum.
o   Membangun tatanan perekonomian nasional.





3.   Prinsip Koperasi Indonesia


o   Keanggotaannya sukarela dan terbuka.
o   Pengelola dilakukan secara demokratis.
o   Pembagian sisa hasil usaha berdasarkan jasa anggota.
o   Pemberian balas jasa terbatas terhadap modal.
o   Kemandirian.
o   Pendidikan perkoperasian.
o   Kerjasama antar koperasi.



4.   Fungsi dan Peran Koperasi Indonesia
Menurut UU No. 25 Tahun 1992 Bab III Pasal 4 :
o   Membangun dan mengambangkan potensi serta kemampuan ekonomi dan social anggota dan masyarakat umum.
o   Berperan aktif dalam mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan masyarakat.
o   Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional, dan koperasi sebagai sokogurunya.
o   Mewujudkan dan mengambangkan perekonomian nasional yang merupakan usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.

5.   Keanggotaan Koperasi Indonesia
a.   Syarat-Syarat Keanggotaan Koperasi


Pertama, mampu melakukan tindakan hukum. Lalu Dapat menerima landasan koperasi. Serta sanggup dan bersedia memenuhi kewajiban dan hak yang tercantum dalam anggaran dasar (AD) dan anggaran rumah angga (ART).

b.   Hak-Hak Anggota Koperasi
  • Menghadiri, berpendapat, dan memberi suara dalam rapat.
  • Memilih dan dipilih menjadi pengurus atau pengawas.
  • Meminta diadakan rapat anggota menurut ketentuan AD.
  • Mengemukakan pendapat kepada pengurus diluar rapat anggota, diminta ataupun tidak.
  • Memanfaatkan dan mendapatkan pelayanan yang sama.
  • Mendapat keterangan mengenai perkembangan koperasi meneurut ketetuan AD.

c.   Kewajiban Anggota
Diantaranya mematuhi AD, ART serta keputusan rapat lainnya. Berpartisipasi dalam kegiatan yang diselenggarakan koperasi. Dan mengembangkan dan memelihara kebersamaan

6.   Sumber Modal Koperasi
a.   Modal Sendiri
1)       Simpanan pokok, yaitu simpaan yang harus dibayar saat masuk menjadi anggota koperasi dan tidak dapat diambil. Setiap anggota membayar dengan harga sama.
2)       Simpanan wajib, yaitu simpanan yang harus dibayar secara berkala dalam waktu tertentu dan tidak dapat diambil selama menjadi anggota.
3)       Dana cadangan, yaitu uang dari penyisihan sisa hasil usaha, untuk modal sendiri, pembagian kepada mantan anggota koperasi, menutup kerugian bila diperlukan.
4)       Hibah, yaitu sejumlah uang / modal yang di nilai dengan uang diterima dari pihak lain bersifat hibah atau pemberian tidak mengikat.

b.   Modal Pinjaman
1)       Anggota dan calon anggota
2)       Koperasi lainnya dan atau anggota berdasarkan kerja sama antar koperasi.

7. Jenis-Jenis Koperasi
a.   Berdasarkan Tingkatannya
1)       Koperasi primer, beranggotakan orang perorangan
2)      Koperasi sekunder, beranggotakan koperasi primer. Dapat dibentuk dengan menggabung tiga koperasi primer sejenis. Dapat berupa pusat koperasi, gabungan koperasi dan induk koperasi.
a)       Pusat koperasi, beranggotakan beberapa koperasi sejenis.
b)       Gabungan koperasi, beranggotakan beberapa pusat koperasi sejenis.
c)       Induk koperasi, beranggotakan beberapa gabungan koperasi sejenis

b.       Berdasarkan Sifat Usahanya
1)       Koperasi konsumsi, menjual kebutuhan hidup sehari-hari anggotanya.
2)       Koperasi kredit/simpan pinjam, menghimpun dana anggota dan meminjamkan ke anggota.
3)       Koperasi produksi, yang menghasilkan sejenis barang secara bersama-sama.
4)       Koperasi pemasaran, menjalankan kegiatan penjualan barang jasa para anggotanya.
5)       Koperasi jasa, menyediakan pelayanan jasa para anggotanya.
6)       Koperasi serba usaha, bergerak dalam bidang usaha.

c.       Berdasarkan Lingkungannya
1)       Koperasi fungsional, terdiri atas pegawai-pegawai instansi atau kantor tertentu.
2)       Koperasi Unit Desa (KUD), berada di wilayah tertentu, dengan sektor usaha mengutamakan pertanian atau perkebunan.
3)       Koperasi sekolah, didirikan para siswa pada suatu sekolah dan latihan perkoperasian.

d.       Berdasarkan Jumlah Bidang Usahanya
1)       Koperasi single purpose, bergerak di satu bidang usaha
2)       Koperasi multi purpose, bergerak dalam beberapa bidang usaha


***
Update setelah lama nggak update, cihuuy! libur-libur refresh bentaran boleh, mana bentar lagi UN lagi *curcol oke-oke santai bae mbak
Dadaaaaaaah

Puisi Sapardi Djoko Damono

AKU TENGAH MENANTIMU
Sapardi Djoko Damono

aku tengah menantimu, mengejang bunga randu alas
di pucuk kemarau yang mulai gundul itu
berapa juni saja menguncup dalam diriku dan kemudian layu
yang telah hati-hati kucatat, tapi diam-diam terlepas

awan-awan kecil melintas di atas jembatan itu, aku menantimu
musim telah mengembun di antara bulu-bulu mataku
kudengar berulang suara gelombang udara memecah
nafsu dan gairah telanjang di sini, bintang-bintang gelisah

telah rontok kemarau-kemarau yang tipis; ada yang mendadak sepi
ditengah riuh bunga randu alas dan kembang turi aku pun menanti
barangkali semakin jarang awan-awan melintas di sana
dan tak ada, kau pun, yang merasa ditunggu begitu lama


GARIS
Sapardi Djoko Damono

menyayat garis-garis hitam
atas warna keemasan; di musim apa
Kita mesti berpisah tanpa
membungkukkan selamat jalan?

sewaktu cahaya tertoreh
ruang hening oleh bisik pisau; Dikau-kah
debu, bianglala itu,
kabut diriku?


LAYANG-LAYANG
Sapardi Djoko Damono

Layang-layang barulah layang-layang jika ada angin
memainkannya. Sementara terikat pada benang panjang,
ia tak boleh diam — menggeleng ke kiri ke kanan,
menukik,
menyambar, atau menghindar dari layang-layang lain.

Sejak membuatnya dari kertas tipis dan potongan
bambu, anak-anak itu telah menjanjikan pertemuannya dengan
angin.
“Kita akan panggil angin Barat, bukan badai atau petir.
Kita akan minta kambing mengembik, kuda meringkik,

dan sapi melenguh agar angin meniupkan gerak-gerikmu,
mengatur tegang-kendurnya benang itu.” Sejak itu
ia tak habis-habisnya mengagumi angin, terutama ketika
siang
melandai dan aroma sore tercium di atas kota kecil itu.

Dari angkasa disaksikannya kelak-kelok anak sungai,
pohon-pohon jambu, asam jawa, bunga sepatu, lamtara,
gang-gang kecil, orang-orang menimba di sumur tua,
dan satu-dua sepeda melintas di jalan raya.

Ia suka gemas pada angin. Ia telah menghayati sentuhan,
terpaan, dan bantingannya; mungkin itu tanda
bahwa ia telah mencintainya. Ia barulah layang-layang
jika
melayang, meski tak berhak membayangkan wajah angin.


SAJAK
Sapardi Djoko Damono

“Biar kunyalakan lampu, agar tampak jelas
di mana pintu, tempat aku bebas keluar masuk.
Aku laki-laki, kau tahu, tak tentram dalam gelap.”

Perempuan itu diam; mungkin ia lebih suka
menebak-nebak saja apakah yang nafasnya sengit
dan keringatnya anyir itu Arjuna atau Rahwana.


SAJAK-SAJAK KECIL TENTANG CINTA
Sapardi Djoko Damono

/1/
mencintai angin
harus menjadi siut
mencintai air
harus menjadi ricik
mencintai gunung
harus menjadi terjal
mencintai api
harus menjadi jilat

/2/
mencintai cakrawala
harus menebas jarak

/3/
mencintai-Mu
harus menjelma aku


IA TAK PERNAH
Sapardi Djoko Damono

ia tak pernah berjanji kepada pohon
untuk menerjemahkan burung
menjadi api

ia tak pernah berjanji kepada burung
untuk menyihir api
menjadi pohon

ia tidak pernah berjanji kepada api
untuk mengembalikan pohon
kepada burung


HUJAN BULAN JUNI
Sapardi Djoko Damono

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu


AKU INGIN
Sapardi Djoko Damono

aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat di ucapkan kayu kepada api
yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada


YANG PALING MENAKJUBKAN
Sapardi Djoko Damono

Yang paling menakjubkan di dunia yang fana ini
adalah segala sesuatu yang tidak ada. Soalnya,
kita bisa membayangkan apa saja tentangnya,
menjadikannya muara bagi segala yang luar biasa.

Kita bisa membayangkannya sebagai jantung
yang letih, yang dindingnya berlemak,
yang memompa sel-el darah agar bisa menerobos
urat-urat yang sempit, yang tak lagi lentuk.

Kita bisa membayangkannya sebagai bola mata
yang tiba-tiba tak mampu membaca aksara
di dinding kamar periksa seorang dokter
ketika ditanya, “Apa yang Tuan lihat di sana?”

Kita bisa membayangkannya sebagai lidah
yang tiba-tiba dipaksa menjulur agar bisa diperiksa
apakah kemarin, atau tahun lalu, entah kapan
pernah mengucapkan suatu dosa, entah apa.

Sungguh, yang paling menakjubkan di dunia kita ini
adalah segala sesuatu yang tidak ada. Soalnya,
kita boleh menyebut apa pun yang kita suka tentangnya
sementara orang berhak juga menganggap kita gila.


PADA SUATU HARI NANTI
Sapardi Djoko Damono


pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau tak akan kurelakan sendiri
pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati
pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau tak akan letih-letihnya kucari

[ ][ ][ ]***[ ][ ][ ]