Sabtu, 25 Juni 2011

Percayalah Kepadaku

Yang aku tahu, kau adalah gadis dengan senyum. Gadis ceria yang membawa hangat suasana.
Aku tahu kau begitu menyayanginya. Tapi aku mohon, jangan menagis lagi. Karena aku tidak ingin melihatmu serapuh ini.
Kau boleh tanyakan kepadaku apa itu kehilangan. Karena aku sudah merasakannya jauh sebelummu.
Tapi, aku mohon, jangan tanya aku apa itu kematian.
******
Yang aku tahu, kau adalah gadis dengan senyum. Gadis ceria yang membawa hangat suasana.
**
Aku menarik dasi itu dan tersenyum sendiri. Menatapi bayangan maya lain di sisi datar cermin itu. Menatapi refleksi sempurna di dalamnya. Setelahnya aku segera turun, meraih sepotong roti dengan selai coklat-kacang seperti biasanya, aku segera melesat menuju halte di depan kompleks.
Aku bisa melihatnya sedang melipat kedua tangan tepat di depan dada. Aku rasa dia kesal karena aku tidak menepati waktu. Mungkin saja, lagi pula aku memang selalu berangkat pukul 06.15
“Ngaret banget lo ya!” seru Nadia saat itu. Jika kalian ada di tempat ini, pasti kalian akan tertawa melihat wajah juteknya itu terlipat puluhan kali.
“Kan produksi karet di Jakarta lagi tren. Makanya update!”
Bayangkan sendirilah apa yang sekarang dia lakukan. Kalian mau Nadia melakukan apa saat ini? Memukul pundakku? Memantapku tajam? Atau mencubit lengan kananku?
Jika itu yang kalian harapkan, maka nol besar yang akan aku berikan. Dia justru membalas kalimatku dengan kalimat konyol lainnya, “Kata siapa? Pak Bono aja nggak pernah update, kenapa juga gue update?”
“Tau ah. Entar gue pasangin Avir deh otak lo. Biar nggak error gara-gara virus.”
“Avir udah nggak mempan gue tuh pakenya... eh... Farhan!” Aku langsung menarik tangannya sebelum kalimat itu terselesaikan dengan sempurna. Karena Bus yang menuju sekolah kami berhenti tepat di depan mata.
“Lo santai bisa nggak? Jangan tarik-tarik.” Ujar Nadia kasar sambil menepis tanganku. “Eh tungguin dong!” seru Nadia.
Aku sudah menyeruak diantara orang-orang yang berdiri. Berharap ada kursi yang tersisa di dalam bus sekolah itu. Dan yup! Di bagian paling belakang, masih ada satu bangku sebelum... “Gue duluan!”
“Ah. Rusuh lo, Nad. Gue duluan juga itu yang liat.” Gerutuku yang lalu meraih tiang di sekitar pintu belakang.
“Siapa cepat dia dapat. Nggak pake protes.”
**
Aku tahu kau begitu menyayanginya. Tapi aku mohon, jangan menagis lagi. Karena aku tidak ingin melihatmu serapuh ini.
**
Aku berjalan perlahan menuju rumah itu. Suasanya masih sunyi dan mencekam. Orang-orang masih berlalu-lalang dengan pakaian hitam. Isakan tangis masih terdengar.
Aku memasuki ruang tengah, tidak ada gadis itu. “Tante. Nadia... mana?” tanyaku pada Mama Nadia yang sedang tertunduk di dekat pintu masuk.
“Ada di kamar. Kamu coba hibur dia ya?”
Aku mengangguk, berjalan menuju kamar yang terletak di lantai dua itu. Menapaki satu persatu anak tangga. Merasakan aura yang sama seperti saat itu. Rasa sesak itu menjalar seketika. Menusuk dan menghantamku. Aku... tidak suka kematian.
“Nad... Gue masuk ya?” ujarku sebelum mengetuk pintu jati itu.
Tidak ada suara sama sekali. Dan aku pun menerobos masuk. Mendapati ruangan bernuansa hijau itu begitu sepi. “Nad...”
“Ja..ngan..kes...si..ni...”
Dari suara itu. Aku tahu, dia pasti sedang berada di ujung ruang ini. Di balik tirai yang membatasi ranjang dan ruang belajarnya. “Lo... nangis...?”
“Bego. Emang gue lagi ketawa?” ujar Nadia ketus.
Aku tertawa kecil dan berhenti setelah Nadia menatapku tajam seperti itu. “Udah, Nad. Jangna nangis dong. Jelek tau.”
“Emang gue jelek.”
“Orang elo ca...” cantik. Aku menelan kata-kataku sendiri. Bodoh. Bodoh. Bodoh. Kenapa aku harus berbicara seperti itu. “Udah, jangan nangis lagi.”
Nadia terisak dan memutar kursi belajarnya itu. Menghadapku, menatap mataku dalam dan tersenyum tipis –aku rasa itu sangat terpaksa. “Lo.. nggak pernah ngerasain kehilangan kakak, sih.” Selanjutnya, wajah itu secara perlahan turun.
Aku menarik wajahnya dengan telunjukku, “Gue... juga tau gimana rasanya. Dan gue nggak mau lo nangis kayak gini.”
“Lo nggak pernah ngerasain, Han.” Sargah Nadia yang langsung menepis telunjukku.
Gadis ini... bodoh atau tuli. Tidak taukan arti kata ‘gimana rasanya’ yang seharusnya di definisikan ‘pernah mengalami’ bukan sekedar penghibur belaka. Ayolah Nadia...
“Yaudah. Tapi jangan nangis lagi ya...?”
Dia menunduk dan terisak lagi. Kedua telapak tangannya meraba pipinya, mengusap buliran air mata yang bahkan sudah sangat lelah untuk di produksi.
“Entar gue beliin coklat deh.” Bujukku lagi. Berharap ia berhenti menangis dan tersenyum tipis.
Dan itu nihil. Dia tertawa hampa. “LO PIKIR, lo bisa nyamain KAKAK gue sama COKLAT? Iya?”
Aku menghela napas panjang sekilas. Berharap partikel itu membawa cukup oksigen untuk memberi kekuatan untuk menghadapi gadis ini. “Nad... Kak Adit...”
“DIEM!” serunya lagi. Kali ini air mata itu turun dengna derasnya, tanpa suara. Hanya air mata yang merambat turun dan akhirnya jatuh ke lantai.
Apa yang aku harus lakukan? Memberikan semangat? Memberikan waktu untuk sendiri? Atau memeluknya dan menyusap punggunya?
Aku mengangkat kedua tanganku, kujatuhkan tepat di kedua bahunya. Gadis itu sedikit tersentak dan menatapku. Kutatap dalam matanya, membiarkan sejenak agar napasnya teratur. “Adit itu, Cuma butuh waktu buat kehidupan selanjutnya.”
**
Kau boleh tanyakan kepadaku apa itu kehilangan. Karena aku sudah merasakannya jauh sebelummu.
Tapi, aku mohon, jangan tanya aku apa itu kematian.
**
Ini sudah hari ke tujuh sejak kepergian Adit.
Adit? Iya, Adit adalah saudara satu-satunya yang dimiliki Nadia. Kakak terbaik yang ia anggap sebagai orang terhebat di dunia ini. Ia sudah –saat ia masih hidup- menginjak usia –yang menurutku sudah cukup dewasa- 16 tahun. Ia bersekolah di sebuah sekolah IT di kawasan Jakarta Timur.
“Han. Entar lo ke rumah gue ya? Habis les tapi. Gue mau nanya soal mtk.” Ujar Nadia yang lalu berpisah di pertigaan blok D.
Aku dan Nadia, satu kompleks berbeda blok –aku di blok F dan Nadia di Blok D. Satu SD dan satu SMP. Kami bukanlah sahabat yang menjadi sempurna karenanya. Kami hanya saling bertukar ilmu dan membiarkan masing-masing pribadi berkembang. Dan jika kalian bertanya seberapa sering kami bercerita tentang keidupan satu sama lain, mungkin hanya 20% dari obrolan kami sepanjang hari.

“Sepi banget ya, Han.” Ujar Nadia saat aku berusaha untuk menyelesaikan soal tentang juring laknat ini.
Aku berhenti menulis, “Udah, nggak usah di bahas.” Aku tahu, dia pasti akan membahas lagi tentang Adit. Menangis lagi.
“Gue belum siap kehilangan dia...”
Benarkan? Ia sudah mulai menunduk dan memutar-mutar pensilnya. “Nad... ditinggal sama orang yang kita sayang emang berat...” aku melirih sendiri. Membiarkan proyektor berkarat dalam otakku memutar lagi film abu-abu itu.
“Tapi... yang lebih berat lagi... kita ngejalin semuanya kayak biasa tanpa orang itu...” aku berhenti, membiarkan gadis ini mencerna kata-kataku. “Percaya sama gue...”
Dia menengadahkan kepalanya, menyusap kelopak mata bagian bawah. “Gue...” tanpa ada yang jelas selanjutnya, ia menangis.
“Udah... cengeng banget lo...” ejekku sekilas. Ia langsung tersenyum masam. “Jelek.”
Nadia membuang pandangannya, “Menurut lo... Kak Adit gimana ya sekarang?” Nadia menatapku sendu.
Aku menghela napas, menatap mata gadis itu dan menerawang. Apa yang akan dilakukan orang yang sudah meninggal?
“Dia sekarang ada dimana?”
Dimana? Yang jelas bukan Surga atau neraka –karena ini belum akhir dunia. Jadi, dimana orang-orang itu?
“Gue nggak tau. Yang jelas... dia nggak suka lo nangis.”
**
Aku terlalu lelah untuk mengenang. Aku terlalu letih untuk menyimpan.
Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan. Akan cerita masa lalu.
**
“Ayolah, Han. Temenin aku ke sana... ya?”
Itu kalimat peermohonan terakhir yang aku dengar darinya. Dari seseorang yang 5 tahun lebih tua dariku. Merengek denganku.
“Nanti... Mama marah kalo kita pulang kesorean.”
Saat itu, mulut-mulut kecilku bergerak begitu saja. Mengucapkan serangkaian penolakkan karena alasan waktu. Percayalah, aku benar-benar ingin mengikutinya saat itu.
“Kita di sini itu tinggal 2 hari lagi. Dan kita belum sekali pun ke sana.” Dia merengek sekali lagi di hadapanku. Menarik tanganku –menyeret lebih tepatnya.
Sore itu, sebenarnya kami sedang berada di daerah dingin –jangan tanyakan aku apa namanya, karena bagiku itu adalah tempat tersuram yang pernah aku datangi. Kami sekeluarga berlibur di sana sejak sepekan lalu.
“Aku nggak mau, Kak. Aku di sini aja.”
Anak laki-laki itu pun melepaskan tanganku kasar, menantapku bengal dan memukul pundakku. “Ah.”
Ia pun berlari menuju turunan terjal berbatu itu, menuju sungai yang terletak di bawah sana. “Jangan bilang sama Mama kal...”
Saat itu, dengan bodohnya aku hanya berdiri menatapi Kakakku terperosok diantara bebatuan besar itu. Yang akhirnya jatuh kedalam sungai. Aku masih melihat tangannya melambai-lambai. Meneriaki namaku dan Mama.
Tersadar, itu yang terjadi padaku beberapa detik setelahnya. Berlari menuju Villa sambil berteriak-teriak panik. Di depan pintu, aku menarik Mama tanpa mengatakan apa-apa. “Kamu kenapa nangis, Han?”
Tibalah kami di sana. Tempat yang bahkan tak pernah lagi ku kujungi. “Kenapa?”
“Kak Aris. Di sana. Tadi..” tanpa sadar air mataku turun begitu saja. “Kak Aris... jatuh...” isakku.
**
Farris.
Pemuda yang hingga kini tak benar-benar aku kenal. Aku hanya hidup bersamanya selama 5 tahun. Bahkan, aku tidak mengingat secara jelas apa-apa yang ia suka. Yang aku masih ingat hingga kini, kakakku itu sangat menyukai bersepeda. Hanya itu.
Andai aku tidak membiarkannya pergi sendiri ke sungai laknat itu. Andai aku berlari lebih cepat menuju Villa. Aku pasti masih bersamanya sekarang.
Membiacarakan tentang bola, atlet favorite, kartun, anime, musik, bermain bola, basket. Sekarang, apa yang terjadi? Hanya memory indah antara dua anak kecil yang saling berlarian di lapangan. Mengayuh pedal sepeda memutari kompleks. Bermain layang-layang hingga sore, mengadunya satu sama lain. Bertukar botol air dan bekal. Hanya itu... sesederhana itu.
**
Jika memang ada yang berbeda, katakanlah. Aku disini, bersamamu dan akan selalu seperti itu. Mendegarkan setiap kata dari bibirmu.
**
Nadia. Gadis itu hanya duduk di koridor dengan beberapa anak-anak perempuan. Bercengkrama satu sama lain. Ia tertawa, tapi, yang aku lihat, ia tidaklah memiliki tawa selepas dulu. Dan ia pun sudah kehilangan sense of humor yang menjadi andalannya itu.
**
“Dan kau lilin-lilin kecil, Sanggupkah kau mengganti, Sanggupkah kau memberi,
Seberkas cahaya”
Aku mulai memainkan jari-jariku di kotak-kotak kayu itu. Berpindah dari nada satu ke yang lain. Memetik senar-senar dengan alunannya. Membiarkan aku terus mengirinya bernyanyi.
“Udah ah. Capek.” Belum juga lagu itu selesai, Nadia sudah memotongnya dan menyenderkan kepalanya di tembok.
“Eh, belum bel kan, ya?” tanya Arvin kepada siapa saja di dalam kelas ini. Sebenarnya sih hanya ada aku dan Nadia.
“He’eh. Mau ke kantin lo?”
“Yoi.” Dia pun langsung berlalu menuju kantin di belakang gedung ini.
“Itu siapa, Han?” tany Nadia.
Oh iya, Nadia kan kemarin Rabu tidak masuk, mana munkgin mengenal anak baru di kelas kami itu. “Arvin. Anak 101.”
Nadia hanya menggauk sekilas, “Hayoo...” aku langsung menatapnya menyelidik. Kilatan barusan. Berbeda.
“Apa sih?” elak Nadia yang langsung berkutat dengan ponselnya.

Bel berbunyi. Anak-anak di kelas ini sudah mulai gaduh, “WOI! BARENG BALIK GUE DONG!” “NEBENG OI!” “PENSIL GUE MANA?”
“Balik Han.” Nadia segera berdiri di hadapanku. Aku segera memasukkan alat tulis ke dalam tas.
Baru saja kami tiba di depan pintu, Arvin sudah menghadang. “Lo mau balikkan? Arah mana? Arah Griya nggak?”
“He’eh.” Jawab Nadia seadanya. Karena memang itu tuju kami setiap hari, Griya Indah adalah nama komplek yang sembilan tahun belakangan aku tempati.
“Oke deh!”
Dan kami bertiga pun berjalan menuju sebrang, menunggu bus sekolah jurusan Griya. “Eh, lo berdua itu anak mana?”
“Anak 11 tau nggak?”
“Oh, yang di deket lapangan itu kan? Belakang kantor polisi?”
“Wuidih. Sekolah kita eksis juga yang ternyata? Keren banget...” puji Nadia girang sendiri. Dasar.
Arvin mengangkat alisnya, “Ah. Kalo yang nggak tau sih, itu nggak pada update aja.” Imbuh Arvin.
“Nah, ini nih, si Nadia kan nggak pernah update, Vin. Orang error mulu,” kali ini aku mengambil andil sambil menunjuk tersangka dengan telunjukku.
“Nyeh. Apa deh, lo ikut ekskul apa Vin? Katanya di sana ada pramuka sama grafis kan?”
Arvin mengangguk antusias, “Gue sih ikut karate aja. Gue nggak betah diem sih.”
“Lo berdua?”
“Gue sih, Perkusi. Hehehe... Seru tuh.” Jawabku.
“Kalo gue ikut ansambel gitar. Padus nggak terima anggota pas kelas 9 sih.” Ujar Nadia dengan wajah yang benar-benar kesal.
Kita pun saling mengakrabkan diri satu sama lain. Membicarakan segala hal yang bisa di bicarakan. Bahkan,sampai nilai-nilai terburuk yang pernah kami dapat.
Arvin, pemuda itu terlihat begitu ceria. Dan... bisa merubah lagi Nadia yang berubah beberapa saat lalu itu.
“Nad, lo ada apa-apa sama Arvin ya!” tuduhku saat itu juga.
“Apa sih? Ngaco banget omongannya.” Nada biacara sudah lagi seperti biasa. Ketus. Secepat itu kah perubahannya?
“Lo... suka sama Arvin, kan?”
**
Percayalah, aku akan selalu ada di sisimu. Menjaga setiap napasmu. Tanpa melewati satu pun desahanmu.
Percayalah, aku selalu ingin menjadi pundakmu. Dan yang harus kau tau, aku menyayangimu.
**
Aku berguling ke kiri saat ponselku berdering pelan. Hanya sebuah pesan singkat darinya. Cepet Seperti itulah isinya. Singkat, tapi cukup untuk megatakan bahwa ia sudah menunggu.
Kuraih jaket coklatku dan segera keluar rumah. Berjalan menuju rumahnya yang terletak di dekat kantor satpam itu.

“Nad. Di bawah aja yuk!” ajakku sambil membereskan beberapa buku. “Di sini panas, AC pake acara nggak di nyalain.”
Gadis itu berdecak, “Dingin tau, hujan gini juga.” Lantas, ia juga mengulurkan tangannya.
Lalu, setelah tiba di ruang tengah, kami pun kembali menekuni soal-sola itu. Mencerna setiap kalimatnya. “Eh, Hukum Snellius itu apa deh? Pelajaran kelas berapa sih ini?”
“Hukum yang dicermin-cermin itu bukan sih? Kayaknya iya deh. Coba cari, atau lensa? Pembiasa? Pokoknya kelas 8.”
“Ah, gue-gue juga yang nyari.”
Aku menatapi setiap lekuknya. Melihat bingkai wajah itu sudah mulai dewasa. Gadis ini benar-benar berbeda dari gadis berumur 6 tahun itu. Matanya pun kini sudah harus menggunakan alat bantu untuk membaca.
“FARHAN!” serunya. Aku langsung terlonjak menatapi wajahnya sedekat itu. “Lo dengerin gue ngomong nggak sih?”
Aku hanya mengangguk. Iya kan saja daripada nanti ia marah. Sebentar... apa dia sadar bahwa sejak tadi aku memperhatikannya.
“Boong banget.”
Aku kembali teridam. Dan ia juga begitu. Lama. Tanpa aku tau sudah berapa waktu yang terhabiskan. Membiarkan gesekkan tinta dan kertas menjadi musik tersendiri. Sampai aku merasa gesekan itu berhenti. Lama dan akhirnya ada yang bersuara.
“Han, Kematian itu apa...?”
“Gue nggak tau Nadia. Udah jangan ngomongin itu lagi. Entar lo nangis lagi.” Sargahku cepat.
Aku pun kembali lagi kepada soal fisika yang sudah membuat sebagian otakku berdenyut itu. “Nad...?” aku menyerukan namanya. Karena sejak tadi ia tidak segera mengerjakan soal-soal itu.
“Lo... nggak kemana-mana kan, Han?” nadanya terlihat ebgitu khawatir. “Gue... nggak mau di tinggalin lebih banyak lagi.” Dia kembali menunduk.
Aku... merasakan ada sesuatu yang aneh. Di dalam dadaku. Bergejolak. Sesak.
**
Aku hanya menyayangimu. Tanpa pernah berpikir untuk memilikimu. Karena aku yakin,ini bukanlah saatnya. Atau... memang tidak ada saatnya.
**
“Lo... suka Arvin kan?” aku menanti bibir itu terbuka. Melontarkan sebuah jawaban. Aku benar-benar menantinya, menunggu.
“Gue... juga nggak tau.”
Jangan berkata seperti itu, ayolah Nadia. Gadis ini justru semakin membuat getaran aneh semakin menjadi. “Iya deh.”
Aha.
Memang di sini stasiun pemberhentian perasaan kagum. Atau lebih tepatnya... rasa suka?
Bahkan, gadis ini tidak menyadari segalanya sudah berubah saat kami mulai menggunakan seragam putih-biru. Apakah ia tidak pernah bisa membacanya? Bukankah ia sering menatap mataku? Bukankah cinta itu datang dari mata yagn menjalar ke hati? Lantas... apa?
Tapi sudahlah. Ini hanya sebuah permainan anak kecil tentang perasaan. Tentang mereka yang selalu mempermainkan kata ‘suka’ ‘cinta’ ‘sayang’ hanya untuk kesenangan belaka. Aku yakin, aku juga seperti itu.
**
Tanyakanlah kepadaku apa yang ingin kau tanyakan. Aku rasa, sekarag aku sudah bisa menjawab semuanya.
**
“Kenapa lo... harus ninggalin gue juga?”
Karena ini memang sudah saatnya aku untuk pergi. Melepaskan segalanya. Meniggalkan masa lalu, rasa sayangku terhadapmu, dan segalanya yang sering kau lakukan.
“Han... Gue... nggak mau sendiri...”
Nad, aku juga tidak pernah berniat untuk meninggalkanmu. Aku tidak pernah ingin melepasmu. Aku juga ingin terus bersamamu. Menjalaninya.
“Siapa yang bakalan gue tungguin kalo berangkat?”
Aku. Kau hanya akan selalu menungguku. Selalu.
Kau menyeka air matanya dan menutup jendela. Angin diluar bertiup kencang. Dan aku rasa, kau selalu membenci dingin. Ya kan?
“Kenapa semua orang harus meninggal. Atau mungkin, kenapa tuhan harus ngambil kalian lebih cepet dari gue.”
Jangan pertanyakan itu. Karena pada dasarnya, manusia sudah memiliki waktunya masing-masing. Dan waktuku sangat indah. Sama seperti saat aku kecil, aku bermain bersama Aris, lantas saat aku beranjak remaja, aku bersamamu.
“Emang, lo semua nyaman ada di sana?”
Sangat nyaman. Karena... di sini, adalah tempat abadi. Tempat dimana nanti kita diadili. Tempat sejati yang takkan pernah mati.
“Kematian... itu apa?” pertanyaan itu. Pertanyaan yang sama saat hari kematianku. Hari dimana aku harus terjatuh dari tangga –teras- rumahmu.
Kematian itu... hal yang abadi, hal tanpa batas, tanpa ada yang menghalangi. Dan mereka yang sudah merasakannya tidak ingin kembali. Atau lebih tepatnya memang tidak bisa kembali. Percayalah, aku nyaman berada di tempat ini.
Dan... aku sekarang tau apa yang di rasakan oleh Aris atau pun Adit –mereka pun pergi juga karena kecelakaan- saat itu, saat semuanya megnhampiri dan datang, rasanya menyeramkan, gelap, sesak, dingin. Percayalah... itu semuanya dilakukan dengan proses yang menyakitkan.
Tapi tidak untuk setelahnya.
“Yang gue tau sih, segalanya di alami dengan rasa sakit yang banget-banget. Tapi, habis itu ya, mereka pasti seneng banget ada di tempat abadi yang indah kayak gitu, percaya sama gue, Nad.”
Suara itu. Aku tau sekarang siapa yang akan menemanimu disisa waktumu. Arvin. Ya, kau menyukainya. Semoga saja... kau dan dia... ada dalam satu garis bahagia tanpa fana. Tidak seperti kau dan aku.
Percayalah, kau akan bahagia bersamanya, melebihi kebahagianmu bersamaku.
“Udah, jangan nangis lagi.” Arvin langsung saja mengambil posisi duduk. “Farhan... pasti tenang di sana.”
Ini yang sebenarnya aku tunggu. Sejak saat pertama kita bertemu. “Gue, sayang lo, Han. Lebih dair gue ke alvin, dengan rasa yang sama.”
***
Sekedar cerpen yang udah lama banget ada di folder, setelah editing sedikit, post deh, Sorry kalo rada-rada nggak jelas dan aneh, i just try to make a short story :)

Jumat, 20 Mei 2011

Naruto - Komik Dengan Berjuta Kekaguman

Naruto. Serial ini sudah melanglang buana entah menembus berapa benua.
 Masashi Kishimoto, ini pengarang serial komik “Naruto”. Tau nggak? Tau dong... Masa nggak tau sih?
Uzumaki Naruto itu karekter utama di Naruto. Iya lah, nama judulnya aja nama dia ya? Hehe... Jadi, dia itu anak yang dari lahir udah punya kekuatan kyubi. Dia anak yatim-piatu. Waktu kecil, dia itu ngerasa jadi manusia transparant. Tapi dia tetap semangat.
Perjuangannya buat jadi chunin itu lumayan berat lho. Dia harus by one sama Kiba  dan Neji di tahap berikutnya. Dia menang tuh!! Hore! \(^.^)/
Pas babak Sasuke lawan Gaara, eh awal segalanya bermula deh.
Dari insiden itu pun, dimulailah perjuangan Naruto sebagai sahabat untuk menyelamatkan teman satu teamnya. Bertarungan demi pertarungan pun terjadi dengan sengit dan menghabiskan banyak korban.
Skip.
Lo pasti kan cerita lengkapnya? Yang nggak tau harus baca. Kalimat-kalimatnya itu lho... dalem pisan euy. Lo harus kudu wajib buat baca Naruto.

Karakternya siapa aja?
Banyak banget! Nget! Nget! Pokoknya, di sini ada banyak karakter. Buat lo yang udah ngikutin serial ini awal, apa karakter favorite lo? Kalo gue sih


Uchiha Obito

Hatake Kakashi

Uchiha Itachi

Sasori juga keren lho.. tapi cuma muncul beberapa chapter :'(

Gue suka sama karakter ini karena latar belakang kehidupannya / ceritanya. Pokoknya, keren-kerenlah, meski pun dari semua karakter yang gue suka, yang keluar sampe buku vol.51 itu Cuma kakashi :’(

Chapter mana yang paling sedih?
Lo pernah terharu nggak baca Naruto? Mewek, sembab, atau sampe nangis kejer?
Gue pernah tuh. Hehehe... dua sampe tiga kali ada lah... kalo yang sampe nangis sih, Cuma pas special chapter yang ada Obito. Ternyata.... sharingan Kakashi itu hadiah kenaikan tingkat ( jounin ) dari Obito. Huhuhu ( menyeka air mata yang sudah mengalir derasnya )
Terus, pas pertarungan Asuma-Hidan. Gue sama nangisnya kayak pas Obito meninggal. Gue bener-bener nggak rela Shikamaru nangis kayak gitu!
Kalo yang Cuma bikin gue berkaca-kaca sih, Cuma pas bagian Jiraiya Meninggal itu doang sama pas naruto di hibur sama Iruka gara-gara kematian Jiraiya. Atau nggak bagian dimana Itachi sama Sasuke bertarung. Aha! Ada lagi yang pas misi penyelamatan Gaara itu!

Chapter mana sih yang bikin lo geregetan?
Ada tiga!
Pertama, waktu pertarungan Naruto sama Sasuke di Lembah Kematian. Sasuke berasa ngeluarin unek-uneknya. Gue suka waktu adu Chidori sama Rasengan. Keren banget! Apalagi setelahnya hujan.
Kedua, waktu Madara itu ngebongkar semua rahasia Itachi. Hah? Dia mau ngehasut sasuke ya? Mau diperalat? Gitu? Nggak terima! Sasuke itu kan masih kecil, polos, imut, gampang di hasut...
Nah yang terakhir itu... waktu Danzo jadi hokage! Heh? Kenapa nggak kakashi aja sih? Kenapa harus Danzo? Pokoknya, pas baca chap yang ini, gue ngomel-ngomel sendiri. Dan di sekolah, waktu temen gue ngebahas hal ini, gue langsung teriak kenceng , “Apaan tuh! Harusnya tuh Kakashi yang jadi hokage. Nggak terima gue! Enak aja!”
Temen gue? Dia udah tutup kuping dan ikut ngacungin jempol. Tapi gue seneng banget! Pada chapter berapa... gitu Danzo tuh mati di bunuh sasuke!! hohoho! Mampos!

Sebenernya, apa sih yang bikin lo tertarik sama Naruto?
Sebenernya, nggak usah ada pertanyaan ini di bawah. Harusnya di atas!
Gue suka Naruto karena kartunnya yang sempet di puter di TV. Waktu itu gue nggak lebih dari anak kecil ( kalo nggak salah sih gue kelas 4 waktu itu ) yang seneng sama ninja-ninjaan.
Terus, sepulang dari Rumah Sakit ( check up ) nyokap ngajakin mampir ke toko buku. Gue di beliin Naruto vol.27!! ( Yang ada Obitonya )
Sampe rumah langsung gue baca. Gue nangis, gue terharu, dan sejak saat itu gue udah mulai putus asa buat nonton kartunnya yang udah di puter berulang-ulang. Dan akhirnya gue pun move ke komiknya. Sampe sekarang! Sampe gue SMP!
Belum lagi kata-katanya yang keren, penuh makna dan kayak novel. Gue bener-bener kagum! Dan itu juga awal mulanya gue suka baca.

Sound Track apa yang lo suka?
NAKUSHITA KOTOBA, WIND, DISTANCE!!

Ada nggak hal bikin ngerubah lo setelah baca Naruto?
Ada.
Gara-gara Naruto gue jadi suka Jepang, Komik-komik lain, suka baca, suka gambar manga, suka band-band Jepang. Dan gara-gara Naruto juga gue jadi sering dateng ke acara Jafest ( Japan Festival )
Karena Naruto gue jadi banyak tau tentang penyanyi Jepang, aktor, aktris, film-filmnya. Karena Naruto juga gue jadi suka Yui ( nggak nyambung ya? )
Pokoknya, Naruto awal-awalnya gue jadi suka nulis, baca, gambar, atau sekedar suka sama komik-komik lain.

Kalo kalian gimana? Bisa ngerubah kebiasaan? Sering ngunjungin web-web yang suka nge-share naruto online? Atau suka nabung buat beli naruto? Jadi suka koleksi buku? Atau kalian sama kayak gue?
Karakter favorite siapa emangnya? Lee? Neji? Sasuke? Naruto? Sakura? Shikamaru? Atau Madara?
Sekali lagi, lo wajib kudu harus buat baca serial komik yang satu ini! Nggak bakal nyesel deh!
Kalo mau baca verisi online bisa kok! Tapi jangan lupa beli komik aslinya, supaya kita tetep bisa menghargai karya masashi kishimoto.

Sabtu, 14 Mei 2011

Bermimpi dalam waktu

Ini sebuah kisah tentang anak berumur tujuh tahun, ia memiliki mimpi sederhana. Sebuah mimpi kecil dengan sebuah harapan besar.
Ia benar-benar tahu, bagaimana cara mendapatkannya.
Ia benar-benar mengerti, apa yang harus di lakukannya.
Ia menikmati semuanya. Seiring waktu berjalan, 5 tahun sudah semuanya terjalankan. Berjalan di atas waktu dengan angin yang berhembus sepoi-sepoi. Ini garis kemenangannya, Bung!
*
Waktu seakan mempermainkannya, menghempaskannya dan membuangkan seperti lalat. Itu semua.... nyata?
Dia menengadahkan kepalanya, berharap mendapatkan satu kebohongan. Satu kebohongan tentang kenyataan yang ia tapaki sekarang.
Ia mengusap buliran yang perlahan jatuh. Semuanya pun tidak terasa lega. Hanya saja... bulir-bulir itu menyirami bibit sakit yang mendalam.
Semuanya... hanya karena gengsi? Begitukah ayahnya berpikir?
Lantas... apa perasaan dan jerih payahnya tidak bernilai? Hanya debu yang bertebaran di angkasa?
Ia... takut untuk bermimpi lagi... Tapi, ia tidak pernah ingin kehilangan jejak-jejak mimpi.
Tunggu aku! Karena aku masih bisa berharap dan memiliki harapan.
**
Mimpi adalah hal tanpa batas, bukan juga berarti tidak bisa digapai.
Mimpi itu udara, takkan pernah bisa lepas, dan kita akan selalu membutuhkannya. Ia hanya akan pergi, saat jiwa di ujung napas.
Jika kau lelah untuk menghirup udara, izinkan saja ia memasuki rongga paru-parumu. Tapi, jangan pernah kau rasakan sakit karenanya.
Jika kau lelah untuk menghembuskannya, jangan pernah larang dia untuk pergi. Karena udara, pada akhirnya juga menghampirimu.
Kita hidup dalam udara. Kita bernapas untuk hidup. Jangan pernah beranggapan hidup untuk bernapas.
**

Selasa, 10 Mei 2011

Waktu Untuk Bayangmu

Detik-detik berlarian berganti menit.
Dan menit-menit pun sudah jengah, membuatnya bermain dengan jam.
Tapi, bahkan hari-hari pun sudah terlalu cepat untuk di jamah, membuatnya sekali lagi menjadi bulatan tahun.
Berlarian dalam waktu. Terjatuh, tersungkur, bangkit, berlari, terhempas, yang pada akhirnya justru menghilang dalam bulatan masa itu.
Asa yang sempat terputus itu kembali lagi. Dalam bentuk yang berbeda. Kata-kata yang sering dipermainkan oleh mereka. Hanya sebuah kata sederhana.
Rasa itu berawal dari pertemanan biasa. Tidak pernah menjadi persahabatan, sama sekali tidak. Tapi, seiring bulan dan matahari masih berganti, aku mulai melangkah lebih jauh dari titik ini.
Tak pernah ada yang tahu, bahkan mengerti.
Karenanya, aku memilih untuk menutup satu dinding kenangan dalam kata-kata. Antara Kau dan Aku. Membiarkan angin mendengarkan dengan seksama. Kisah-kisah tanpa tuannya. Hanya ada sang pujangga.
9 berganti 11.
7 berganti 8.
Dan apa lagi yang bisa menujukkan bahwa waktu sudah kembali terlewatkan? Angka 7 dan 3? Atau Januari ke Desember? 13 berganti 14? Haruskah?
Bahkan, saat dinding-dinding itu mulai merapuh dan membiarkan celah untuk kau masuki, kau justru melemparkan amunisi tak kasat mata.
Jadi, apa aku harus benar-benar hanya mencintai bayangmu? Selamanya?
Jika memang iya, biarkan aku untuk tetap memiliki bayangmu selamanya. Hanya aku, rasa ini, dan bayangmu.

Minggu, 08 Mei 2011

Resonansi Benda

RESONANSI
Tanpa kalian sadari, saat pesawat terbang melintas di atas rumah kalian, kaca-kaca di rumah kita ikut bergetar. Bahkan, ada juga sampai pecah karena getarannya terlalu besar. Hayoo... jadi kalo kaca jendela pecah, belum tentu karena setan.
Jadi, resonansi dapat disimpulkan :
“Peristiwa benda ikut bergetar karena benda lain, yang memiliki frekuensi sama”
Contoh benda-benda yang beresonansi adalah gitar, biola, terompet, sonometer ( alat yang digunakan dalam percobaan hukum mersenne), juga pita suara.


Resonansi Bandul / Beban

Dari gambar di atas, ada 2 pasang bandul yang memiliki tali sama panjang. Jadi, jika bandul A diayun, maka bandul yang akan bergerak hanya bandul C. Sedangkan yang lain akan tetap diam.
Maka, hal in ijuga berlaku dengan bandul F. Jika bandul F diayun, hanya bandul B yang akan bergerak. Sedangkan bandul-bandul yang lain akan tetap diam.
Jadi, dapat di simpulkan, bandul yang memiliki panjang / lebar / berat yang sama, mala benda itulah akan ikut bergetar dengan frekuensi sama.

Resonansi Kolom Udara

Bila kita getarkan garpu tala dimulut tabung yang telah diketahui frekuensinya. Pada ketinggian tertentu, kolom udara akan terdengar bunyi keras, sebab kolom udara mengalami resonansi.
Tinggi kolom udara dapat diubah dengan mengubah air di dalam reservoid. Dalam percobaan di dapat :
Tiap kelipatan ganjil lamba, kolom udara akan terjadi resonansi. Maka :
o  Resonansi Pertama = h1 = 1/4 lamda
o  Resonansi Kedua = h2 = 3/4 lamda
o  Resonansi Ketiga = h3 = 5/4 lamda ......dst
Dengan hasil di atas, diketahui :
o  Frekuensi kolom udara.
o  Panjang gelombang / lamda bunyi udara.
o  Cepat rambat gelombang bunyi di udara.

Mengukur Kedalaman Laut

Alat yang digunakan untuk mengukur kedalam laut adalah fathometer dengan memanfaatkan SONAR ( Sound Object Navigation Amplifaire Rescue ). Dengan rumus :

Buat yang mau nyari pengertian bunyi sama hk mersenne << klik >>

PS : sekali lagi minta maaf karena gambar dan keterangan yang kurang lengkap.

BUNYI - Frekuensi, Nada, dan Macam-macam Bunyi

Bunyi / Sound / Audio / Sono
Bunyi merupakan bentuk energi yang dihasilkan oleh benda bergetar dan dirambatkan oleh gelombang.
Bunyi merupakan gelombang longitudinal. Hal ini dikarenakan adanya rapatan dan rengangan. Bunyi pun akan terdengar semakin keras karena banyaknya rapatan dari pada renggangan.
Syarat terjdinya bunyi ada tiga, yaitu :
o    Adanya benda bergetar ( sumber bunyi )
o    Adanya medium / zat yang merambatkan bunyi
o    Adanya pendengaran yang baik

Seorang ahli fisika, Miller, melakukan sebuah percobaan tentang cepat rambat bunyi. Dari hasil percobaannya dihasilkan, kecepatan bunyi pada udara yang bersuhu 0­0C adalah 331 m / s.

Nama Zat
Cepat Rambat Bunyi ( m/s )
Gas Hidrogen
1.186
Udara pada suhu 00C
331
Udara pada suhu 200C
343
Alkohol
1.213
Air pada suhu 150C
1.440
Emas
3.240
Aluminium
5.100
Baja
5.100
Besi
5.130
Dari tabel di atas, maka dapat disimpulkan bahwa :
v . zat padat > v . zat cair > v . zat gas

Perlu kita ketahui bahwa kecepatan bunyi di udara tidak berpengaruh pada tekanan dan kelembaban udara. Kecepatan bunyi di udara sebanding dengan suhu.
Apakah kalian pernah sadar bahwa suara di malam hari akan lebih jelas dari pada siang hari?
Hal ini di sebabkan karena faktor keributan yang terjadi. Jika siang hari, banyak suara-suara yang membisingkan, sehingga suara yang kecil tidka terdengar. Sedangkan di malam hari, suara-suara itu tidak lagi terdengar, sehingga, suara sekecil apapun dapat terdengar.
Rumus Cepat Rambat Bunyi :
Frekuensi Bunyi
Salah satu syarat bunyi adalah adanya pendengaran yang baik. Bunyi-bunyi manakah yang dapat di dengar oleh manusia?
Manusia memilik batas tertundu dalam mendegar bunyi-bunyian. Tidak semua bunyi dapat di dengar oleh manusia. Belum lagi, manusia juga tidak bisa mendengar bunyi karena jaraknya.
Telinga normal manusia dapat mendengar bunyi dengan frekuensi berkisar 20 Hz – 20.000 Hz. Daerah rentang frekuensi ini disebut daerah frekuensi audio yang juga disebut audiosonik.
Sedangkan bunyi di bawah 20 Hz disebut infrasonik dan yang melebihi 20.000 Hz disebut ultrasonik.
Gelombang ultrasonik pun kini sering di gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Karena memiliki banyak keuntungan dan kemudahannya.
Manfaatnya antara lain :
o    Mencampur logam agar rata
o    USG ( Ultra Sono Grafi ) untuk mendeteksi penyakit dan janin dalam kandungan
o    Meneliti ketebalan logam
o    Mengatahui kebocoran pipa

Keunggalannya daripada Sinar-X sehingga ultrasonik lebih sering digunakan, antara lain:
o    Ultrasonik tidak dapat dikacaukan oleh bunyi audio atau pun infrasonik.
o    Memiliki frekuensi tinggi
o    Gelombang pendeknya dapat di pantulkan oleh benda kecil sekali pun.
o    Tidak merusak sistem syaraf

Nada
Nada merupakan bunyi teratur yang memiliki frekuensi tertentu yang beraturan. Sedangkan bunyi yang tidak teratur disebut desah.
Pada nada juga ada perbandingan antara nada satu dengna yang lain yang sering disebut interval nada. Sedangkan tangga nada adalah sederetan nada dengan frekuensi tinggi / rendah yang tersusun berurutan.
Dalam nada juga ada warna bunyi ( timbre ) yang merupakan dua nada dasar yang memiliki frekuensi sama tapi terdengar berbeda. Kenapa terjadi hal seperti itu? Karena adanya nada-nada tambahan ( atas ) yang menyertai nada dasar tersebut.
Deret Nada =>
Nada dan Perbandingannya

Perbandingan Frekuensi Nada
Catatan => La ( 6 ) merupakan nada dasar Internasional.
Kesimpulan => Frekuensi dapat mempengaruhi tinggi – rendahnya nada. Karena nada bergantung pada frekuensi.

Hukum Mersenne
1)  Panjang senar ( l ) = berbanding terbalik. Karena makin panjang senar, maka makin rendah suara.
2)  Luas penampang senar / tebal-tipis senar ( a ) = berbanding terbalik. Karena makin besar luas penampang, makin rendah juga suaranya.
3)  Tegangan senar ( f ) = sebanding. Karena makin besar tegangannya, maka makin tinggi suara yang di hasilkan.
4)  Massa jenis (  ) = sebanding. Karena makin besar massa jenisnya, makin tinggi juga suaranya.
  


Macam-macam Pemantulan Bunyi
1.  Gaung atau Kerdam
Gaung adalah bunyi pantul terdengar sebagian dari bunyi asli, sehingga bunyi asli terdengar kurang jelas.
Contoh :
Bunyi asli             : Me... nu... lis...
Bunyi pantul        :         me... nu... lis...
Bunyi terpantul    : Me... ... ... ... ... lis...
Bunyi ini sering terjadi diantara gedung pencakar langit. Sehingga, untuk mengatasinya kita harus menggunakan alat penyerap bunyi seperti gabus, karpet, busa, dll.

2.  Gema / Echo
Gema adalah bunyi pantul yang terdengat setelah bunyi asli. Syarat untuk gema adalah jarak sumber bunyi dengan pendengar sekitar 35 meter.
Hal ini bisa terjadi pada pantai, lembah, jurang, dll. Bunyi yang terdengar setelahnya pun akan makin kecil karena energinya semakin habis.
Contoh :
Hey... Hey... Hey... Hey... Hey... Hey... .... ...

Effect Doppler
Bila =
“Sumber bunyi mendekati pendengar atau sebaliknya, maka bunyi akan semakin keras / lemah. Sebab, mendengar menerima rapatan gelombang yang lebih banyak ( lebih keras ).”
Contoh :
Hey........ Hey...... Hey.....
Maka, dalam contoh diatas, rapatan digambarkan oleh titik-titik. Jadi, semakin lama rapatan semakin berkurang karena energi yang diterima pndengar mulai habis.

Resonansi merupakan kelanjutan dari catatan ini ==> di sini <==